Penerbitsembada.com – Konseling feminis adalah pendekatan yang semakin relevan dalam dunia psikologi dan konseling modern, terutama ketika berbicara tentang pemberdayaan perempuan dan pemulihan dari kekerasan. Buku “Konseling Feminis – Bercirikan Membangun Relasi Setara Antar Manusia” karya Nunuk P. Murniati mengungkapkan pentingnya pendekatan ini dalam menghadapi ketidakadilan gender dan membantu korban kekerasan untuk bertransformasi menjadi penyintas yang kuat. Dalam buku ini, konseling bukan hanya sebuah terapi psikologis, tetapi juga upaya mendalam untuk mengubah pola pikir dan relasi yang timpang menjadi lebih setara.
Konseling feminis adalah suatu metode yang berbasis pada prinsip-prinsip feminisme dan berfokus pada kesetaraan dalam hubungan antara konselor dan konseli. Pendekatan ini bertujuan untuk mengatasi trauma dan stres psikologis yang dialami oleh korban kekerasan, terutama perempuan, akibat sistem sosial dan budaya patriarkal yang menindas. Salah satu ciri utama dari konseling feminis adalah penciptaan relasi setara antara konselor dan konseli, yang memungkinkan korban untuk membuka diri dan mengembangkan potensi mereka.
Salah satu konsep utama dalam konseling feminis adalah relasi setara. Dalam pendekatan ini, konselor bukanlah pihak yang memberi nasehat atau solusi sepihak, tetapi lebih berperan sebagai mitra yang mendampingi korban dalam perjalanan pemulihan. Relasi yang setara memungkinkan konseli merasa dihargai dan berdaya, membuka ruang bagi mereka untuk menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri. Proses ini tidak hanya membantu korban mengatasi trauma, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi agen perubahan dalam kehidupan sosial mereka.
Pemulihan korban kekerasan, khususnya kekerasan berbasis gender, adalah inti dari konseling feminis. Dalam buku ini, Murniati mengajukan konsep transformasi diri, di mana korban kekerasan diproses untuk menjadi penyintas yang sadar akan hak-haknya dan mampu melawan ketidakadilan gender. Proses ini tidak hanya mencakup pemulihan psikologis, tetapi juga pemulihan sosial dan budaya, karena kekerasan terhadap perempuan sering kali berakar pada ketidakadilan struktural yang lebih luas.
Walaupun buku ini banyak berfokus pada korban perempuan, konseling feminis juga relevan untuk semua individu yang menghadapi diskriminasi dan penindasan sistematis, baik itu berbasis gender, ras, atau kelas sosial. Dalam masyarakat patriarkal, banyak individu, terutama perempuan, yang terjebak dalam pola pikir dan struktur sosial yang menekan mereka. Konseling feminis membantu mereka mengidentifikasi dan mengatasi akar permasalahan ini, serta menyadari potensi mereka sebagai manusia yang setara.
Buku ini juga menekankan bahwa pendekatan konseling feminis dapat digunakan untuk mengatasi stres psikologis yang disebabkan oleh trauma, terutama bagi mereka yang hidup di tengah budaya patriarkal yang mendiskriminasi perempuan. Melalui konseling ini, korban dapat merasakan proses penyembuhan yang mendalam dan menemukan kembali kekuatan serta potensi dalam diri mereka.
Salah satu aspek penting dalam konseling feminis adalah kesadaran gender. Buku ini mengajarkan pembaca bahwa banyak korban kekerasan, terutama perempuan, tidak menyadari bahwa mereka hidup dalam sistem yang membatasi potensi mereka hanya karena norma-norma sosial yang telah dibentuk oleh budaya patriarkal. Dengan memahami kesadaran gender, korban dapat melihat bagaimana mereka terperangkap dalam sistem sosial yang tidak adil dan mulai mengambil langkah untuk membebaskan diri mereka.
Kesadaran ini kemudian berlanjut menjadi kesadaran feminis, yang memungkinkan korban untuk melihat pengalaman mereka dalam konteks yang lebih luas—sebagai bagian dari perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan sosial. Konseling feminis membantu korban untuk melihat bahwa mereka bukan hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi juga berjuang untuk perubahan sosial yang lebih besar.
Murniati juga menekankan bahwa konseling feminis bukan hanya tentang memberikan nasehat, tetapi tentang terapi yang berbasis pada pemberdayaan. Terapi ini membantu korban menyadari akar masalah yang mereka hadapi dan memberikan alat untuk menghadapinya. Konseling ini juga berfokus pada penyembuhan luka batin yang lebih dalam, bukan hanya mengatasi gejala psikologis sementara. Dengan mengubah pandangan dan pola pikir mereka, korban dapat bertransformasi menjadi individu yang lebih kuat dan mandiri.
Buku “Konseling Feminis – Bercirikan Membangun Relasi Setara Antar Manusia” merupakan sumber daya yang sangat penting untuk para konselor, aktivis sosial, dan siapa saja yang peduli terhadap pemberdayaan perempuan dan keadilan sosial. Melalui konsep relasi setara, kesadaran gender, dan transformasi diri, buku ini memberikan panduan yang mendalam tentang bagaimana konseling dapat menjadi alat untuk memulihkan korban kekerasan dan ketidakadilan.
Jika Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang konseling feminis, pemberdayaan perempuan, dan kesetaraan gender, buku ini adalah bacaan yang wajib. Tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga menawarkan panduan praktis untuk para konselor yang ingin mengembangkan keterampilan mereka dalam membantu korban kekerasan dan diskriminasi. ***
Beli: bit.ly/Sembada_KF